Semua mafhum, adab adalah kompas moral yang seringkali dianggap kuno, terus tergerus oleh arus modernitas dan terkadang tenggelam dalam hiruk-pikuk validasi media sosial.
Setakat ini, menurut penulis tentu saja, tidak ada momen yang lebih krusial untuk mengembalikan jarum kompas tersebut selain kajian rutin yang digelar oleh siswa-siswi SMK Muhammadiyah Berbah.
Pada pagi hari Senin, 20 Juli 2026, tepat pukul 08:30 hingga 09:30 WIB, publik sekolah—khususnya para remaja yang sedang dalam fase pencarian identitas—disuguhi pemandangan yang menyegarkan akal budi.
Di atas mimbar Masjid Al-Hikmah Krikilan, Berbah, Sleman, Ustaz M. Adi Negara, S.H., melontarkan materi yang memantik diskusi mendalam mengenai batas-batas kebebasan berekspresi remaja dalam perspektif Islam.
Konsep "adab" bukanlah rantai yang mengikat kreativitas, melainkan pagar pelindung yang menjaga martabat seorang muslim di tengah gempuran budaya instan.
Dalam sesi yang berlangsung selama satu jam itu, Ustaz Adi menekankan bahwa remaja masa kini sering terjebak dalam ilusi bahwa ketidaksopanan adalah bentuk keberanian, dan kekasaran adalah simbol keaslian diri. Padahal, dalam Islam, adab adalah buah dari iman yang matang.
Kajian rutin ini bukan sekadar seremoni keagamaan belaka. Ia adalah upaya sistematis untuk menanamkan kembali nilai-nilai luhur yang kian terkikis.
Pernyataan Ustaz M. Adi Negara, S.H., menjadi tamparan halus bagi generasi yang sering merasa paling benar dengan argumen-argumen dangkal di kolom komentar. Beliau mengingatkan bahwa sebelum seseorang diakui kecerdasannya atau keterampilannya, ia harus terlebih dahulu diakui adabnya.
"Ilmu tanpa adab seperti api tanpa kayu bakar; bisa menyala sebentar, tapi cepat padam dan meninggalkan asap yang menyesakkan."
Kegiatan yang berakhir pada pukul 09:30 WIB ini meninggalkan jejak pemikiran yang dalam. Bukan tentang larangan keras, melainkan tentang kesadaran penuh. Bahwa menjadi remaja Muslim di era 2026 bukan berarti harus kehilangan jati diri, melainkan justru menemukan jati diri yang paling autentik: santun, berilmu, dan berwibawa.
Masjid Al-Hikmah Krikilan, pada hari itu, bukan hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga menjadi ruang dialog peradaban kecil yang dimulai dari langkah kaki para siswa SMK Muhammadiyah Berbah.






Semoga para siswa Skamuba diberikan kemampuan menghadapi kehidupan yang sarat akan kompleksitas problematika remaja di era VUCA ini.
BalasHapus